Skip to main content

UPT PERPUSTAKAAN UNSYIAH : The Revolution of Library, The Revolution of Literacy

[Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba ULF 2018]

Perpustakaan biasanya identik dengan tempatnya anak-anak kutu buku. Pergi ke perpustakaan tanpa alibi buat tugas, malah dikatain "rajin banget" (pake nada sarkasme) atau "sok rajin", "sok pintar" dan sejenisnya. Ya maklum-maklum saja, membaca bukanlah kebiasaan atau hobi yang lazim bagi sebagian orang kita. Daripada membaca, anak-anak muda sekarang lebih senang main gadget atau ngopi. Maka tak heran, perpustakaan jadi kalah ramai dengan cafe-cafe yang terus menjamur.

Seperti yang diketahui, literasi di negeri kita memang masih tergolong rendah. Menurut data statistik dari UNESCO,  indonesia berada pada peringkat ke 60 dari total 61 negara dengan tingkat literasi terendah. Indeks minat baca di Indonesia juga disebut baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Hasil dari UNDP juga megungkapkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, masih kalah dari Malaysia yang mencapai 86,4 persen (Republika, 5 Maret 2018). Bah. Negeri kita yang tercinta darurat membaca, bung!

Menanggapi krisis yang satu ini,  perpustaakan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun bangsa lewat literasi. Tidak cukup sebagai "tempat" saja, perpustakaan harus punya "senjata" dalam merangsang minat baca. Zaman serba digitalisasi dan modernisasi kini, masa iya perpustakaan masih gitu-gitu aja? Saya pribadi suka membaca dan sering ke perpustakaan (meski nggak rajin-rajin amat), namun saya tidak menampik bahwa perpustakaan termasuk salah satu tempat yang membosankan. Suasana dan aturannya seolah telah diset sejak dulu kala untuk begitu kaku dan membosankan. Melupakan salah satu hal yang tak kalah penting yang diinginkan para pembaca, yaitu suasana santai.
UPT Perpustakan Unsyiah (Sumber: Fatimah)
UPT Perpustakan Unsyiah (Sumber: Fatimah)

UPT perpustaakan Unsyiah, perpustakaannya Universitas jantong hatee rakyat Aceh ini merupakan perpustakaan modern  yang patut dijadikan role model bagi tempat baca lainnya, khususnya di Aceh. Setelah bertransformasi beberapa tahun silam, perpustakaan ini mengusung berbagai kreativitas dan inovasi dalam menarik minat pengunjung. Dan yang terpenting, unsyiah library berhasil image kaku yang melekat pada perpustakaan kebanyakan. Tak tanggung-tanggung, perpustakan yang dipimpin oleh Bapak Taufiq Abdul Gani ini berhasil memperoleh akreditas A sejak tahun 2013 dan mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008. Artinya, kualitas dan manajemennya sudah berstandar I N T E R N A S I O N A L. Kewreennn.
Visi Misi UPT Perpustakaan Unsyiah (sumber: Fatimah)

UPT Perpustakan Unsyiah terbuka bagi siapapun yang ingin berkunjung. Perpustakaan ini buka  dari pagi hingga sore setiap harinya. Bahkan juga ada jam malam khusus hari senin sampai jumat. Cucok bagi kalian yang dikejar-kejar deadline tugas. Nah, sebelum masuk, pengunjung diharuskan menunjukkan KTM atau kartu tanda pengenal lainnya untuk di scan oleh petugas. Khusus mahasiswa unsyiah, biaya masuknya  is free of charge alias gratis. Selain dari pada itu, pihak perpustakaan akan membebankan biaya Rp 5.000 yang bisa digunakan seharian penuh. Jika kalian menemui kesulitan nantinya, petugas perpustakaan siap membantu.
Petugas perpustakaan sedang meng-scan kartu identitas (sumber: Fatimah)

Di perpustakaan Unsyiah, aktivitas belajar menjadi jauh lebih menyenangkan dengan didukung tempat dan pelayanan yang cukup oke. Setiap sudut ruang bacanya didekorasi dengan menarik dan minimalis. Dinding-dindingnya dipoles dengan warna-warni pastel serta digantungi berbagai kata-kata inspiratif yang bisa menjadi energy booster buat para pembaca.

Where there are no standards, there can be no kaizen (Sumber : Fatimah)

Bagi yang ingin mencari buku sosial,  di lantai satu tempatnya. Buku-buku mengenai statistik, pendidikan, psikologi dan agama juga terdapat di sini. Nah, untuk buku eksakta ada di lantai dua. Soal  teknik, kedokteran, pertanian dan bla bla bla di sinilah kawasannya. Naik lagi ke lantai tiga, disini tempatnya koleksi referensi (jurnal, skripsi, koran, dll), buku-buku non-ilmiah dan juga ada Korea Corner. Bagi penggemar Korea, kalian bisa singgah kesini demi menambah pengetahuan kalian tentang negara gingseng (jangan  taunya cuma  Lee Min Ho dengan sarangheo aja!). 
Mahasiswa yang sedang mencari buku (sumber: Fatimah)
Suasana perpustakaan Unsyiah (sumber: Fatimah)
Korea Corner (sumber:Fatimah)

Selain itu, masih banyak juga spot lainnya di perpustaakan yang bisa kita jelajahi. Misalnya library lounge dan ruang khusus diskusi, dimana kita bisa diskusi belajar dengan santai sambil lesehan, tanpa harus khawatir menggangu tetangga sebelah yang fokus membaca. Di setiap lantai juga tersambung dengan jaringan wifi dan kabel LAN, jadi sangat membantu kalian yang  ingin browsing soal pelajaran. Dengan tempat yang nyaman plus full AC, kalian  akan betah berlama-lama di sini. Oh ya, segala transaksi disini dilakukan secara elektronik, termasuk peminjaman dan pengembalian buku yang bisa dilakukan secara mandiri. Praktis kan?

Library Lounge (sumber: Fatimah)


Mahasiswa meminjam buku lewat mesin peminjaman mandiri ( sumber: Fatimah)

Nah, sebagai mahasiswa akhir yang telah digerogoti skripsi, saya masih bertahan hingga detik ini. Rahasianya? Ini dia. Dengan portal Open Education Research (OER) hasil kerjasama UKM literasi informasi dan UPT perpustakaan, saya bisa memperoleh bahan ajar yang berlisensi Creative Commons. Lewat Electronic Thesis and Disertasions (ETD) dan UILIS, mencari karya ilmiah dapat dilakukan dengan mudah nggak pake susah. Semuanya bisa diakses lewat hp android. Ntaps.

Lapar atau haus? Di perpustakaan terdapat kantin dan cafe yang menyediakan  snack serta minuman yang lezits dan kekinian. Ditemani segelas coklat dingin, aktivitas membaca jadi jauh lebih nikmat. Kita juga bisa membawa snack atau minuman ke dalam ruang baca. Jadi, bisa belajar sambil ngemil juga (asal jangan lupa buang sampah ditempatnya!).
Cafe Librisyana (Sumber: Fatimah)

Kantin Perpustakaan ( sumber: Fatimah)

Mengusung slogan more than just a library, perpustakaan Unsyiah terbukti memang lebih dari sekedar perpustakaan. Semuanya all in one.  Tempat membaca iya, tempat santai iya, ngadem iya. Dari pada harus nongkrong nggak jelas, mending ke perpustakaan Unsyiah. Asiknya dapat, ilmupun  dapat.

Demi menjaga eksistensi sekaligus membangun semangat literasi, perpustakaan Unsyiah melibatkan kalangan muda, khususnya mahasiswa dan tak ragu bekerja sama dengan berbagai pihak. Melahirkan 1001 ide yang kreatif dan inovatif untuk bersama-sama membangun perpustakaan dan dan minat baca.

Dan.., salah satu kegiatan bergengsi yang diadakan setiap tahunnya adalah Unsyiah Library Fiesta. Kali ini dalam kegiatan Unsyiah Library Fiesta 2018, pihak perpustakaan menghadirkan berbagai event dan lomba tak kalah menarik menarik dari sebelumnya, mulai dari fotografi, vlog, blog, resensi dan juga ajang duta baca. Hal ini tentu memancing animo masyarakat, mahasiswa, dan lainnya untuk berpartisipasi, sekaligus meningkatkan citra dan popularitas perpustakaan. Tak hanya itu, Unsyiah Library Fiesta 2018 dapat memotivasi para kawula muda untuk menjadi lebih kreatif menyalurkan ide-ide brilian terkait dunia literasi.
Expo Unsyiah Library Fiesta 2018 (sumber: instagram/upt_perpustakaan_unsyiah
Sebagai mahasiswa sekaligus pengunjung perpustakaan dan sekaligus lagi pencinta buku, kegiatan seperti Unsyiah Library Fiesta 2018 cukup menarik perhatian saya secara pribadi. Kegiatan ini merupakan ajang kompetisi sekaligus mengasah minat dan bakat. Daripada cuma membaca aja, apa salahnya mencoba menganalisa buku tersebut lewat tulisan, resensi buku misalnya. Atau mendongengkan cerita, fotografi, vlog dan lain sebagainya. Bermanfaat bagi kita dan juga orang lain lewat penularan semangat literasi. Paling tidak  ini menjadi sedikit usaha atau cikal bakal untuk menggenjot Indonesia dari peringkat 60 dari 61 negara dengan tingkat literasi terendah!

Terakhir dengan berbagai kegiatan, inovasi dan pelayanan yang dikembangkan, perpustakaan Unsyiah berhasil mewujudkan satu hal yang menurut saya amat penting dewasa ini. Mencintai perpustakaan. Ditengah banyaknya generasi muda yang tergila-gila dengan gadget dan secangkir kopi, UPT perpustakaan unsyiah tak kalah bersaing dengan terobosan-terobosannya yang patut diacungi jempol. Terbukti, kini pengunjung makin ramai yang ke perpustakaan dari sebelum-sebelumnya. Tentu saja budaya membaca tidak serta-merta instan ala sim salabim. Namun pelan tapi pasti, apa yang telah dilakukan perpustakaan Unsyiah sangat patut diapresiasi, yaitu mengajak kawula muda untuk senantiasa mencintai buku dan perpustakaan. Membentuk persepsi kita, bahwa membaca itu keren. Dan perpustakaan itu gaul. So, mari membaca. Mari ke perpustakaan.

Sumber:
http://republika.co.id/berita/koran/didaktika/14/12/15/ngm3g840-literasi-indonesia-sangat-rendah
Instagram/upt_perpustakaan_unsyiah

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Masjidil Aqsa : Wujudkan Impian Penuh Berkah Bersama Cheria Holiday

اَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَ
"Tidak disarankan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)". (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu). Masjidil Aqsa, Palestina. Siapa yang tidak mendambakan suatu saat bisa berkunjung ke masjid ini, satu dari tiga masjid paling agung bagi umat Islam (Setelah Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi). Setiap muslim di dunia mengimpikannya. Sungguh besar keberkahan yang Allah berikan kepada masjidil Aqsa. Bilamana kita shalat di dalamnya, maka akan dilipatgandakan pahala kita. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Thabrani dan al-Bazzar, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa, “Shalat di Masjidil Haram dilipatgandakan pahalanya hingga 100 ribu kali lipat, sementara shalat di masjidku (Masjid Nabawi) dilipatgandak…

Serunya Liburan Halal ke Eropa Timur dengan Cheria Holiday

Jalan-jalan ke Eropa, siapa yang nggak mau? Keindahan negeri yang terkenal dengan empat musim, sejarah, dan seninya ini tentu menggoda para traveller untuk berkunjung ke benua putih ini. Namun, bertandang ke negeri –negeri Eropa terkadang memberikan kegalauan tersendiri, khususnya bagi muslim travellers. Tak lain karena kemungkinan sulitnya menjalankan ibadah dan mencari makanan halal di negara yang minoritas muslim. Makanya, melakukan perjalanan ke Eropa sekiranya butuh planning yang matang, termasuk soal memilih agen travel.

Nah, Cheria Halal Wisata Tour Travel hadir dalam rangka memenuhi kebutuhan umat Islam dalam kunjungan wisata mereka, walau ke negara non-muslim sekalipun. Sebagai tour wisata muslim, Cheria Halal Holiday memastikan liburan yang nyaman bagi wisatawannya dengan kelancaran menjalankan ibadah wajib dan menikmati makanan halal. Cheria Holiday sendiri adalah sebuah travel wisata halal terdepan yang melayani servis komprehensif bagi individu atau grup yang ingin berwisa…